BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Belajar merupakan suatu
proses internalisasi pengetahuan dalam diri individu. Aktivitas belajar akan
berlangsung efektif apabila seseorang yang belajar berada dalam keadaan positif
dan bebas dari ketertekanan. Selama ini proses belajar yang berlangsung di
sekolah maupun program-program pelatihan yang diselenggarakan cenderung
berlangsung dalam suasana yang monoton dan membosankan. Dalam kondisi ini guru
hanya menuangkan ilmu pengetahuan kepada siswa yang berlaku pasif. Materi yang
diajarkan hanya diceramahkan tanpa ada upaya untuk melibatkan potensi siswa
untuk berpikir dan memberi respon terhadap pengetahuan yang diberikan.
Kadang–kadang aktivitas belajar disertai dengan ancaman yang membuat siswa
cenderung mencari selamat, yang akhirnya siswa akan menghindari proses
belajar-mengajar tersebut. Aktivas belajar seperti ini, jelas tidak akan
membuat peserta belajar dapat menciptakan pengetahuan secara optimal.
Agar dapat mengatasi
permasalahan tersebut, banyak perubahan mendasar yang perlu dilakukan agar
dapat membantu siswa mengembangkan potensi yang dimiliki menjadi kompetensi
aktual. Perubahan mendasar yang perlu dilakukan mencakup penggunaan strategi
dan model pembalajaran yang dapat menjadikan proses belajar bukan lagi sebuah
proses yang menakutkan tapi menjadi sebuah proses yang menyenangkan dan dapat
membuat seseorang berkreasi dengan pengetahuan yang dipelajarinya.
Untuk itu dengan
belajar secara revolution, diharapkan bisa meningkatkan kualitas pendidikan,
karena learning revolution diterapkan dengan “FUN” maka belajar akan efektif
dengan menggunakan potensi yang dimilikinya.
B.
Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari
Learning Revolution?
2. Bagaimana konsep dari
Learning Revolution?
3. Apa manfaat dari
Learning Revolution?
4. Model dan strategi apa
yang digunakan dalam Learning Revolution dan bagaimana penerapannya?
C.
Tujuan Pembahasan
Dari beberapa rumusan
masalah di atas, maka makalah ini kami buat bertujuan agar dapat menambah
wawasan dan pengetahuan kita mengenai Model dan Strategi Pembelajaran Learning
Revolution.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Learning Revolution
1.
Pengertian Learning Revolution
Hakekat belajar sendiri
adalah proses perubahan tingkah laku yang terjadi akibat adanya pengalaman dan
latihan. Jadi, tujuan belajar sendiri ialah mencapai perubahan tingkah laku,
baik yang menyangkut aspek pengetahuan, keterampilan, maupun aspek secara luas.
Jika dikaitkan dengan globalisasi, revolusi
kecerdasan abad 21 salah satunya adalah Learning Revolution.[1][1]
Cara belajar yang memungkinkan bisa keluar dari
lingkaran kapitalisme adalah belajar secara revolusioner. Yang dimaksud belajar
secara revolusioner (Learning Revolution) adalah belajar secara mengasyikkan dan menyenangkan
sepanjang hidup manusia tanpa terikat oleh sistem yang meniadakan kebebasan dengan peraturan yang mesti dipenuhi.
Dengan kondisi yang serba tidak menentu, serta ketidak pedulian penguasa pada
rakyatnya maka perlu kecerdasan untuk mengambil langkah belajar secara
revolusioner. Jika tidak, keadaan seperti saat ini takkan bisa menyelamatkan Indonesia dari jurang kemiskinan. Sebagian lain
kita menyaksikan kehidupan yang sedemikian susah dan terampas hak-hak hidup
untuk kepentingan kapitalisme. Sebagian manusia tunduk pada sistem yang
mengeksploitasi kehidupan dasar dan kepribadiannya semata
untuk kepentingan material.[2][2]
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa
Learning Revolution adalah belajar secara mengasyikkan dan menyenangkan
sepanjang hidup manusia tanpa terikat oleh sistem yang membosankan dan tidak
bebas.
2.
Konsep Learning Revolution
Belajar secara revolusioner akan efektif apabila anak mengalami pembebasan
dalam menuangkan ide dan mengeksplorasi (menerangkan) pikirannya. Belajar
secara revolusioner adalah menjungkir-balikkan keyakinan yang telah membelenggu
di pikiran manusia tentang belajar yang harus di
dalam kelas dan mendengarkan keterangan yang diberikan oleh guru. Belajar
revolusioner memberikan ruang kepada setiap anak untuk belajar secara kreatif
sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.[3][3]
Dalam Learning
Revolution, Guru berperan sebagai fasilitator dan teman
berdiskusi secara sepadan tanpa menakutkan bagi anak didik. Seluruh alam
menjadi media pembelajaran efektif dengan menjadikan dunia sebagai kelas.
Dengan demikian akan mampu menciptakan kreasi baru setiap saat. Modifikasi dari
hal-hal yang lama adalah mutlak diperankan oleh anak untuk terus memodifikasi
karya-karya baru. Pelajaran tidak berfokus dalam sistem kelas dari 09.00 –
15.00 setiap Senin sampai Sabtu, namun berubah sesuai dengan kemampuan anak
yang berbeda-beda. Setiap manusia punya keunikan untuk menentukan kapan dan
berapa lama ia belajaar. Bagi usia anak-anak belajar dengan cara
bermain sungguh mengasyikkan. Mereka akan kreatif dengan latihan-latihan yang
tidak pernah gagal.
Manusia adalah makhluk berfikir dan
berimajinasi, ini juga telah disebutkan dalam Al Qur’an. Jadi, setiap manusia
pasti berfikir jika ingin berubah karena otak manusia adalah komputer terhebat
di dunia.[4][4] Bisa dengan meningkatkan pendidikan. Dan agar pengajaran bisa efektif,
pendidik hendaknya menggunakan hal-hal seperti diskusi kelompok kecil,
penelitian, prestasi, debat, latihan pengalaman, lapangan, simulasi, dan studi kasus. Maka akan
menghasilkan apa yang kita inginkan, apalagi ditambah dengan otak serta fisik
kita yang memiliki potensi yang luar biasa. Sehingga dari semua yang kita punya akan menghasilkan kecerdasan yang
bisa diperoleh antara lain dari gerakan, karena gerakan adalah bagian tak
terpisahkan dari belajar dan berfikir. Sehingga siswa
bisa merespon dari semua yang telah disampaikan dan bisa melahirkan ide-ide
baru. Otak manusia memiliki bagian yang berbeda, sehingga manusia bisa berfikir
dan melatih otak tersebut agar dapat berfungsi dengan baik.[5][5]
Penulis Gordon Dryden dan Dr. Jeannette Vos membuat keyakinan dalam bahasan
Learning Revolution :
a. Hampir segala hal adalah mungkin dilakukan
b. Hampir setiap masalah telah terselesaikan, paling tidak sebagian di suatu
tempat dunia
c. Bila masalah belum dipecahkan, kini kita memiliki teknik-teknik sederhana
untuk menemukan penyelesaian terbaik
d. Tidak perlu menjadi Negara kaya, perusahaan raksasa, atau sekolah besar
untuk memimpin dunia, sebagai terobosan justru lahir dari sekolah dan
perusahaan kecil
e. Sekarang kita berada di titik balik sejarah.
Pada tahun 1990-an Jeannette Vos memungkinkan belajar di supercamp dengan
kecepatan belajar antara 5 sampai dengan 20 kali lebih cepat dengan metode
sederhana, mudah dipelajari, logis dan handal.[6][6]
B.
Model dan Strategi Belajar Learning Revolution
1.
Model Pembelajaran Revolusi (Learning Revolution)
Terdapat banyak sekali
model pembelajaran Learning Revolution, di antaranya adalah:
a. Setiap orang adalah
guru dan sekaligus murid (Untuk pertama kalinya, anak-anak mengambil alih
posisi menentukan dalam revolusi komunikasi). Bisa diterapkan pada anak berusia
delapan sampai sembilan tahun yang belajar bahasa Inggris dengan fasih bisa
melalui permainan teka-teki silang berukuran besar, kuis, dan berbagai
permainan lain yang menyenangkan.
b. Bagi kebanyakan orang,
belajar akan sangat efektif jika dilakukan dalam suasanan yang menyenangkan.
c. Ciptakan lingkungan
yang baik, maka anak-anak yang berasal dari keluarga miskin sekalipun akan
berkembang dalam proses belajar mandiri.
d. Saat terbaik untuk
mengembangkan kemampuan belajar adalah sebelum masuk sekolah, karena sebagian
besar jalur penting di otak dibentuk pada tahun-tahun awal yang penting
tersebut.
e. Orang dapat belajar
dengan baik ketika mereka mau belajar, bukan pada usia yang ditentukan orang
lain.
f. Informasi yang kompleks
sekalipun dapat diserap dan diingat dengan mudah jika siswa benar-benar
terlibat (di dalam proses pembelajaran).
g. Meskipun anda
tertinggal di sekolah, tidak ada kata terlambat untuk mengejarnya, dengan
metode belajar terpadu.
h. Penelitian otak
menunjukkan bahwa kecerdasan tikus dapat berkembang di lingkungan yang tepat,
dan demikian pula halnya dengan manusia.
i. Tipe kecerdasan tidak
hanya satu, dan setiap orang memiliki gaya belajar yang unik, sama uniknya
dengan sidik jari. Sekolah yang efektif harus dapat mengenali dan melayaninya.
j. Game komputer dapat
mengubah berbagai aspek dalam belajar.
k. Tidak harus menjadi
negara besar untuk memimpin dunia, yang paling menentukan adalah pemerintahan
yang bervisi ke depan.[7][7]
2.
Strategi Pembelajaran Revolusi (Learning Revolution)
Di antara strategi
pembelajaran revolusi (Learning Revolution) adalah:
a. Ambilah pelajaran dari olahraga. Karena dalam olahraga, seperti olahragawan
mereka mempunyai mimpi, tujuan, rencana, pilihan, dan sikap yang positif. Artinya, keberhasilan bisa diraih bila bergairah, dan memiliki obsesi
serta motivasi.
b. Beranilah bermimpi
tentang masa depan.
c. Tentukan tujuan
spesifik dan tetapkan tenggat waktu. Mula-mula tentukan poin apa yang anda
ingin pelajari, setelah itu, tentukan tujuannya setelah itu buatlah langkahnya
dan tentukan waktunya.
d. Dapatkan pemandu yang
antusias segera. Apapun yang ingin anda pelajari, sesungguhnya banyak orang
lain yang telah mempelajarinya.
e. Mulailah dengan
gambaran menyeluruh seperti pada puzzle.
f. Tanya, Gunakanlah dengan kunci (apa, siapa,
kapan, dimana dan bagaimana) bertanyalah pada setiap orang yang anda anggap
mampu.
g. Carilah prinsip utama.
h. Temukan 3 buku terbaik yang ditulis oleh praktisi andal. Maka ini akan
mempermudah anda mendapat apa yang anda inginkan.
i. Pelajari lagi cara membaca lebih cepat, lebih
baik dan lebih mudah. Carilah poin-poin utama serta bacalah yang menggugah
minat anda.
j. Perkuat dengan gambar dan suara
k. Belajar melalui praktik. Bukan hanya teori, tetapi dipraktekkan.
l. Gambarlah peta pikiran sebagai ganti catatan
linier. Dengan begitu maka memori otak akan meningkat.
m. Pelajari cara mencapai kondisi waspada yang relaks (relaxed alertness).
Maka kita harus mengetahui tentang kondisi yang tepat
pada saat itu dengan menggunakan gelombang otak anda.
n. Lakukan dan lakukan. Belajar dengan mempraktekkan langsung tidak hanya
sekedar teori-teori fiktif.
o. Tinjau ulang dan renungkan. Mempelajari suatu hal dengan meninjau ulang
secara teratur poin-poin penting segera setelah menyelesaikannya. Atau dengan
cara membaca sekilas dengan menandai dan mencari ide-ide pokoknya.
p. Gunakan alat bantu sebagai cantolan memori. Dengan mengasosiasikan
pengetahuan yang baru dapat diperoleh dengan sesuatu yang sudah diketahui.
q. Nikmatilah berbagai permainan. Asosiasi orang terhadap kata-kata belajar
ditemukan 10 kata konsep. Yaitu : membosankan, ujian, pekerjaan, rumah,
buang-buang waktu, hukuman tidak relevan, penahanan, benci dan takut.
Pendidikan progresif saat ini menekankan perlunya menghadirkan kembali proses
awal belajar yang menyenangkan, bahkan humor itu sendiri adalah cara yang baik
untuk belajar jadi kaitkanlah humor dengan belajar.
r. Ajarilah orang lain, Yakni setiap orang
mengajari seorang lain, bahwa setiap orang bisa menjadi guru.
s. Ikutilah kursus sistem belajar cepat. Pada
masalah ini berkonsentrasi pada tip-tip sederhana yang dapat dilakukan sendiri
adalah cara yang baik akan tetapi cara terbaik untuk mempelajari seluruh
prinsip tersebut yaitu dengan mengikuti kursus sistem belajar cepat dan
spesifik, metode-metode sederhana membantu akan membantu mengingat apa saha
secara lebih efektif, bahkan tanpa perlu melakukan studi terperinci atas
teknik-teknik dalam sistem belajar cepat terpadu.[8][8]
C.
Manfaat Learning Revolution
1. Mempermudah, mempercepat belajar dan menguatkan
memori otak. Sebagaimana pendapat Tony Bazan yang mengatakan bahwa dari
learning revolution ini bisa menggabungkan antara pengetahuan, kepedulian,
optimisme dan saran-saran yang praktis. Ia menjadi petunjuk yang baik dalam
memahami kemajuan dan konsep-konsep utama yang mempengaruhi pembelajaran.
2. Dengan belajar dalam keadaan yang “FUN” maka
belajar akan efektif serta respon yang diterima sangat baik. Sebagaimana
pendapat Ray Mond A. Daley, bahwa metode ini bisa merangsang, menantang dan
menggugah pendidik di masa depan. Caranya menampilkan saran-saran praktis
begitu inspiratif dan mengasyikkan untuk melakukan sesuatu sekarang.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
BAB II
PEMBAHASAN
- 1. Pengertian Learning Revolution
Arti Belajar
yang sebenarnya adalah proses perubahan tingkah laku berkat pengalaman dan
latihan, jadi tujuan belajar sendiri itu adalah mencapai perubahan suatu
tingkah laku baik yang menyangkut aspek pengetahuan keterampilan, maupun aspek
lainnya. Jika dikaitkan dengan globalisasi, revolusi kecerdasan abad 21 salah
satunya adalah learning revoution.[1]
Cara belajar
yang mungkin bisa dikeluarkan dari lingkaran kapitalisme adalah belajar secara
revolusioner yaitu belajar secara mengasyikkan dan menyenangkan sepanjang hidup
manusia tanpa terikat oleh sistem yang memenjarakan kebebasan dan peraturan
yang mesti dipenuhi. Dengan kondisi yang serba tidak menentu, serta ketidak
pedulian penguasa pada rakyatnya. Maka perlu kecerdasan untuk mengambilangkah
secara revolusioner. Jika tidak keadaan seperti saat ini takkan bisa
mengentaskan indonesia jadi jurang kemiskinan. Sebagian lain kita menyaksikan
kehidupan yang sedemikian sisah dan terampas hak-hak hidup untuk kepentingan
kapitalisme. Sebagian manusia tunduk pada sistem yang mengekspolitasi kehidupan
dasar dan kepribadiannyasemata untuk kepentingan material.[2]
- 2. Model-Model Learning Revolution
- Setiap orang adalah seorang guru dan sekaligus murid (anak mengambil alih posisi menentukan dalam revolusi komunikasi).
Ini bisa
digunakan pada anak berusia delapan sampai sembilan tahun.
- Bagi kebanyakan orang belajar akan semakin efektif jika dilakukan dalam suasana menyenangkan.
- Ciptakan lingkungan yang baik, anak-anak yang berasal dari keluarga yang tidak mampu sekalipun akan berkembang dalam proses belajar mandiri.
- Tipe kecerdasan tidak hanya satu dan setiap orang memiliki daya belajar yang unik. Sekolah yang efektif harus dapat mengenali dan melayani seperti halnya ilmu bisnis.[3]
- 3. Alasan Menggunakan Learning Revolution
v
Mempermudah, mempercepat belajar dan menguatkan memori otak. Dan sebagai mana
pendapat toni bazan yang mengatakan bahwadari learning revolution ini bisa
menggabungkan antara pengetahuan, kepedulian, optimisme dan saran-saran yang
praktis. Ia menjadi petunjuk yang baik dalam memahami kemajuan dan
konsep-konsep utama yang mempengaruhi pembelajaran.
v
Dengan belajar dalam keadaan “fun” maka belajar akan efektif serta respon yang
diterima sangat baik, sebagaimana pendapat Ray Mord A. Dalai, bahwa
metode ini bisa merngsang menantang dan menggugah pendidik dimasa depan,
caranya menampilkan saran-saran praktis begitu inspiratif dan mengasyikkan
untuk melakukan sesuatu sekarang.
- 4. Strategi Learning Revolution
- Ambilah pelajaran dari olahraga karena dalam olahraga seperti olahragawan mereka mempunyai mimpi, tujuan pilihan jika positif. Inti keberhasilan bisa diraih bila bergairah.
- Beranilah bermimpi tentang masa depan.
- Tentukan tujuan spesifik dan tetapkan tenggang waktu. Mula-mula point apa yang anda ingin pelajari setelah itu, tentuka tujuannnya, setelah itu buatlah langkahnya dan tentukan waktunya.
- Dapatkan pemandu yang antusias segera. Adapun yang anda pelajari sesungguhnya banyak orang lain yang telah mempelajarinya.
- Mulailah dengan gambaran menyeluruh seperti pada puzzle.
- Tanya, gunakan dengan kata (apa, siapa, kapan, dimana, bagaimana) bertanyalah pada setiap orang yang anda anggap mampu.
- Carilah prinsip utama.
- Temukan tiga buku terbaik yang ditulis oleh praktisa handal, maka ini akan mempermudah dan mendapatkan apa yang anda inginkan.
- Pelajari lagi secara lebih cepat, lebih baik dan lebih mudah. Carilah point-point utama seta bacalah yang menggunakan minat anda.
- Perkuat dengan gambar dan suara.
- Belajar melalui praktek bukan hanya teori saja, tetapi dipraktekan.
- Gambarlah peta pikiran sebagai ganti catatan linier. Dengan begitu maka memori otak akan meningkat.
- Cara mudah mengeluarkan apa yang telah anda pelajari. Karena otak dan peta pikiran merupakan alat penyimpan informasi. Baca sekilas point-point kunci yang telah anda tandai dan lakukan kembali pemetaan pikiran.
- Pelajari cara mencapai kondisi waspad dan rileks (relaxed alertness) maka anda harus mengetahui tentang kondisi yang tepat pada saat itu dengan menggunakan gelombang otak anda.
- Lakukan dan lakukan: belajar dan mempraktekan langsung tidak hanya sekedar teori-teori fiktif.
- Tinjau ualang dan renungkan; mempelajari suatu hak dengan meninjau ulang secara teratur point-point penting segera setelah menyelesaikannya. Atau dengan cara membaca sekilas dengan menandai dan mencari ide-ide pokoknya.
- Gunakan alat bantu sebagai cantolan memori; dengan mengasosikan pengetahuan yang baru diperoleh dari sesuatu yang diketahui.
- Nikmatilah berbagai permaina; asosiasi orang terhadap kata-kata belajar ditemukan 10 konsep yaitu; membosankan, ujian, pekerjaan, rumah, buang-buang waktu, hukuman tidak relevan, penahanan, benci dan takut. Pendidikan progresiv saat ini menekankan perlunya menghadirkan kembali proses awal belajar yang menyenangkan bahkan humor itu sendiri adalah cara yang baik untuk belajar jadi kaitkanlah humor dengan belajar.
- Ajarilah orang lain (setiap orang lain mengajari orang lain). Bahwa setiap orang lain bisa menjadi guru.
- Ikutilah kursus sistem belajar cepat.
Pada masalah
ini berkonsentrasi pada tips-tips sederhana dapat dilakukan sendiri dengan cara
yang baik , akan tetapi cara terbaik untuk mempelajari seluruh prinsip
tersebut, yaitu dengan mengikuti belajar cepat dan spesifik, metode-metode
sederhana akan menbantu mengingat apa saja secara lebih efektif, bahkan tanpa
perlu melakukan study terperinci atas teknik-teknik dalam sistem cepat terpadu.[4]
- 5. Implementasi Metode Learning Revolution
Belajar
secara revolusi akan efektif apabila anak mengalami pembebasan dalam menuangkan
ide-ide dan mengeksplorasi (menerangkan ) pikirannya. Belajar secara
revolusioner adalah menjungkir balikkan keyakinan yang telah membelenggu
pikiran manusia tentang belajar yang harus di dalam kelas dan mendengarkan
keterangan yang diberikan oleh gurunya. Belajar revolusioner memberikan peluang
kepada setiap anak untuk belajar secara kreatif sesuai dengan kemampuan yang
dimiliknya.[5]
Untuk
membantu belajar revolution digunakan untuk menentukan tindakan dan pikiran
yang diyakininya. Guru berperan sebagai fasilitator dan teman berdiskusi secara
sepadan tanpa menakutkan bagi anak didik. Seluruh alam menjadi sebagai media
pembelajaran efektif dengan menjadikan dunia sebagai kelas. Dengan demikian
akan mampu menciptakan kreasi baru setiap saat. Modifikasi dari hal-hal yang
lama adalah mutlak diperankan oleh anak untuk terus memodifikasi karya-karya
baru. Pelajaran tidak terfokus dalam sistem kelas dari 09.00 – 15.00. setiap
senin – sabtu, namun berubah sesuai dengan kemampuan anak yang berbeda-beda.
Bagi usia anak-anak belajar dengan cara bermain sungguh mengasyikkan mereka
akan kreatif dengan latihan-latihan yang tidak pernah gagal.
Manusia
adalah makhluk berfikir dan berimajinasi, jadi setiap manusia pasti berfikir
jika ingin berubah karena otak manusia adalah komputer terhebat didunia.[6] bisa dengan meningkatkan pendidikan
dan agar pengajaran bisa efektif, pendidik hendaknya menggunakan hal-hal
seperti diskusi kelompok kecil, penelitian, prestasi, debat, latihan
pengalaman, lapangan, simolasi, study kasus[7]. Maka akan menghasilkan kecerdasan
yang bisa diperoleh antara lain dari gerakan, karena gerakan adalah bagian yang
tak terpisahkan dari belajar dan berfikir[8]. Sehiingga siswa bisa merespon dari
semua yang telah disampaikan dan bisa melahirkan ide-ide baru. Otak manusia
memilki bagian yang berbeda beda, sehingga manusia bisa berfikir,dan melatih
otak tersebut agar berfungsi.
Adapun langkah- langkah learning revolution ini ada 6 tehknik yaitu
- Ciptakan “kondisi” yang benar
- Presentasi yang benar.
- Pikirkan.
- Ekspresikan(acticte to draw out)
- Praktikan
- Tinjau, evaluasi dan rayakan.
BAB III
KESIMPULAN
Arti Belajar
yang sebenarnya adalah proses perubahan tingkah laku berkat pengalaman dan
latihan, jadi tujuan belajar sendiri itu adalah mencapai perubahan suatu
tingkah laku baik yang menyangkut aspek pengetahuan keterampilan, maupun aspek
lainnya
Model-Model
Learning Revolution
- Setiap orang adalah seorang guru dan sekaligus murid (anak mengambil alih posisi menentukan dalam revolusi komunikasi).
Ini bisa
digunakan pada anak berusia delapan sampai sembilan tahun.
- Bagi kebanyakan orang belajar akan semakin efektif jika dilakukan dalam suasana menyenangkan.
- Ciptakan lingkungan yang baik, anak-anak yang berasal dari keluarga yang tidak mampu sekalipun akan berkembang dalam proses belajar mandiri.
- Tipe kecerdasan tidak hanya satu dan setiap orang memiliki daya belajar yang unik. Sekolah yang efektif harus dapat mengenali dan melayani seperti halnya ilmu bisnis.
[1] Tabrani Rusyan dkk, pendekatan
dalam proses belajar mengajar. (Bandung: remaja karya offset. 1989). H.169
[2] http:// www. Revolusi cara
belajar, edu
[3] Gorden Dryden, jenette VOS, Revolusi
cara belajar, Learning Revolution”. (Bandung: kaifa, 2001). H.261
[4] Gorden Dryden, jenette VOS, Revolusi
cara belajar, Learning Revolution”. (Bandung: kaifa, 2001). H.145-177
[5] http:// www. Revolusi cara
belajar, edu
[6] Agus efendi, Revolusi kecerdasan
abad 21, (Bandung Alfa beta, 2005). H.3
[7] Tabrani Rusyan dkk, pendekatan
dalam proses belajar mengajar. (Bandung: remaja karya offset. 1989). H.7
[8] Jalaluddin Rahmat, Belajar
Cerdas ( Bandung: MLC, 2006). H. 150
LEARNING REVOLUTION
LEARNING
REVOLUTION
A.
Pengertian
Revolusi Cara Belajar
Hakekat belajar
sendiri adalah proses perubahan tingkah laku berkat pengalaman dan latihan,
jadi, tujuan belajar sendiri ialah mencapai perubahan tingkah laku, baik yang
menyangkut aspek pengetahuan, keterampilan, maupun aspek luas. Jika dikaitkan dengan globalisasi,
revolusi kecerdasan abad 21 salah satunya adalah Learning Revolution.
Cara belajar yang memungkinkan bisa
keluar dari lingkaran kapatalisme adalah belajar secara revolusioner yaitu
belajar secara mengasyikkan dan menyenangkan sepanjang hidup manusia tanpa
terikat oleh sistem yang memenjarakan kebebasan dengan peraturan yangmesti
dipenuhi. Dengan kondisi yang serba tidak menentu, serta ketidak perdulian
penguasa pada rakyatnya maka perlu kecerdasan untuk mengambil langkah belajar
secara revolusioner. Jika tidak, keadaan seperti saat ini takkan bisa
mengentaskan Indonesia dari jurang kemiskinan. Banyak orang berjalan dan juga
terbang. Sebagian lain kita menyaksikan kehidupan yang sedemikian susah dan
terampas hak-hak hidup untuk kepentingan kapatilisme. Sebagian manusia tunduk
pada sistem yang mengeksploitasi kehidupan dasar dan kepribadiannya semata untuk kepentingan material.
Dengan demikian, dapat disimpulkan
bahwa Learning Revolution adalah belajar secara mengasyikkan dan menyenangkan
sepanjang hidup manusia tanpa terikat oleh sistem yang membosankan dan tidak
bebas seperti yang kita mau.
B. Konsep Learning Evolution
Belajar cara revolusi akan efektif
apabila anak mengalami pembebasan dalam menuangkan ide dan mengeksplorasi
(menerangkan) pikirannya. Belajar secara revolusioner adalah
menjungkir-balikkan keyakinan yang telah membelenggu pikiran manusia tentang
belajar yang harus di dalam kelas dan mendengarkan keterangan yang diberikan
oleh guru. Belajar revolusioner memberikan ruang kepada setiap anak untuk
belajar secara kreatif sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.
Untuk membantu belajar revolution,
digunakan untuk menentukan tindakan dan fikiran yang diyakininya. Guru berperan
sebagai fasilitator dan teman berdiskusi secara sepadan tanpa menakutkan bagi
anak didik. Seluruh alam menjadi media pembelajaran efektif dengan menjadikan
dunia sebagai kelas. Dengan demikian akan mampu menciptakan kreasi baru setiap
saat. Modifikasi dari hal-hal yang lama adalah mutlak diperankan oleh anak
untuk terus memodifikasi karya-karya baru. Pelajaran tidak berfokus dalam
sistem kelas dari 09.00 – 15.00 setiap Senin sampai Sabtu, namun berubah sesuai
dengan kemampuan anak yang berbeda-beda. Setiap manusia punya keunikan untuk
menentukan kapan dan berapa lama ia berlayar. Bagi usia anak-anak belajar
dengan cara bermain sungguh mengasyikkan. Mereka akan kreatif dengan
latihan-latihan yang tidak pernah gagal.
Manusia adalah makhluk berfikir dan
berimajinasi, ini juga telah disebutkan dalam Al Qur’an. Jadi, setiap manusia
pasti berfikir jika ingin berubah karena otak manusia adalah komputer terhebat
di dunia. Bisa dengan meningkatkan pendidikan. Dan agar pengajaran bisa
efektif, pendidik hendaknya menggunakan hal-hal seperti diskusi kelompok kecil,
penelitian, prestasi, debat, latihan pengalaman, lapangan, simulasi, studi
kasus. Maka akan menghasilkan apa yang kita inginkan, apalagi ditambah dengan
otak serta fisik kita yang memiliki potensi yang luar biasa. Sehingga dari
semua kita punya akan menghasilkan kecerdasan yang bisa diperoleh antara lain
dari gerakan, karena gerakan adalah bagian tak terpisahkan dari belajar dan
berfikir. Sehingga siswa bisa merespon dari semua yang telah disampaikan dan
bisa melahirkan ide-ide baru. Otak manusia memiliki bagian yang berbeda,
sehingga manusia bisa berfikir dan melatih otak tersebut agar berfungsi.
C. Model Learning Revolution
1. Setiap orang
adalah guru dan sekaligus murid (anak mengambil alih posisi menentukan dalam
revolusi komunikasi). Bisa diterapkan pada anak berusia delapan sampai sembilan
tahun yang belajar bahasa Inggris dengan fasih bisa melalui permainan teka-teki
silang berukuran besar, kuis, dan berbagai permainan lain yang menyenangkan.
2. Bagi kebanyakan
orang, belajar akan sangat efektif jika dilakukan dalam suasana menyenangkan.
Bisa diterapkan pada anak berusia enam tahun menggunakan komputer untuk
membentuk CD-Rom dan merencanakan “Sekolah Masa Depan” mereka sendiri. Mereka
membangun model technic lego berupa “rumah abad ke 21. Mereka juga menggunakan
komputer untuk mengaktifkan unit-unit pembangkit energi surya dan angin yang
didesain agar setiap rumah mampu memenuhi kebutuhan energinya sendiri.
3. Ciptakan
kingkungan yang baik, maka anak-anak yang berasal dari keluarga miskin
sekalipun akan berkembang dalam proses belajar mandiri. Bisa diterapkan pada
anak berusia 4 tahun telah mampu mengeja, membaca, menulis dan melakukan
hitungan dasar, bahkan sebelum mereka masuk sekolah.
4. Game computer
dapat mengubah berbagai aspek dalam belajar. Penerapan IPTEK bagi para siswa.
5. Tipe kecerdasan
tidak hanya satu dan setiap orang memiliki gaya belajar yang unik, sama uniknya
dengan sidik jari. Sekolah yang efektif harus dapat mengenali dan melayaninya
seperti penerapan ilmu bisnis.
D. Alasan Memilih Strategi Belajar
Learning Revolution
1) Mempermudah, mempercepat belajar dan
menguatkan memori otak. Sebagaimana pendapat Tony Bazan yang mengatakan bahwa
dari learning revolution ini bisa menggabungkan antara pengetahuan, kepedulian,
optimisme dan saran-saran yang praktis. Ia menjadi petunjuk yang baik dalam
memahami kemajuan dan konsep-konsep utama yang mempengaruhi pembelajaran.
2) Dengan belajar dalam keadaan yang
“FUN” maka belajar akan efektif serta respon yang diterima sangat baik.
Sebagaimana pendapat Ray Mond A. Daley, bahwa metode ini bisa merangsang,
menantang dan menggugah pendidik di masa depan. Caranya menampilkan saran-saran
praktis begitu inspiratif dan mengasyikkan untuk melakukan sesuatu sekarang.
E. Strategi Pembelajaran Revolusi
(Learning Revolution)
1) Ambilah pelajaran dari olahraga.
Karena dalam olahraga, seperti olahragawan mereka punya mimpi, tujuan, rencana,
pilihan, sikap positif. Intinya keberhasilan bisa diraih bila bergairah,
memiliki visuraksi.
2)
Beranilah
bermimpi tentang masa depan
3) Tentukan tujuan spesifik dan
tetapkan tenggat waktu. Mula-mula tentukan poin apa yang anda ingin pelajari,
setelah itu, tentukan tujuannya setelah itu buatlah langkahnya dan tentukan
waktunya.
4) Dapatkan pemandu yang antusias
segera. Apapun yang ingin anda pelajari, sesungguhnya banyak orang lain yang
telah mempelajarinya.
5)
Mulailah
dengan gambaran menyeluruh seperti pada puzzle.
6) Tanya, Gunakanlah dengan kunci (apa,
siapa, kapan, dimana dan bagaimana) bertanyalah pada setiap orang yang anda
anggap mampu.
7) Carilah prinsip utama
8) Temukan 3 buku terbaik yang ditulis
oleh praktisi andal. Maka ini akan mempermudah anda mendapat apa yang anda
inginkan.
9) Pelajari lagi cara membaca lebih
cepat, lebih baik dan lebih mudah. Carilah poin-poin utama serta bacalah yang
menggugah minat anda.
10) Perkuat dengan gambar dan suara
11) Belajar melalui praktik. Bukan hanya
teori, tetapi dipraktekkan.
12) Gambarlah peta pikiran sebagai ganti
catatan linier. Dengan begitu maka memori otak akan meningkat.
13) Cara mudah mengeluarkan apa yang
telah anda pelajari. Karena otak dan peta pikiran merupakan alat menyimpan
informasi. Baca sekilas poin-poin kunci yang telah anda tandai dan lakukan
kembali pemetaan pikiran.
14) Pelajari cara mencapai kondisi
waspada yang relaks (relaxed alertness). Maka anda harus mengetahui tentang
kondisi yang tepat pada saat itu dengan menggunakan gelombang otak anda.
15) Lakukan dan lakukan. Belajar dengan
mempraktekkan langsung tidak hanya sekedar teori-teori fiktif.
16) Tinjau ulang dan renungkan.
Mempelajari suatu hal dengan meninjau ulang secara teratur poin-poin penting
segera setelah menyelesaikannya. Atau dengan cara membaca sekilas dengan
menandai dan mencari ide-ide pokoknya.
17) Gunakan alat bantu sebagai cantolan
memori. Dengan mengasosiasikan pengetahuan yang baru saha diperoleh dengan
sesuatu yang sudah diketahui.
18) Nikmatilah berbagai permainan.
Asosiasi orang terhadap kata-kata belajar ditemukan 10 kata konsep. Yaitu :
membosankan, ujian, pekerjaan, rumah, buang-buang waktu, hukuman tidak relevan,
penahanan, benci dan takut. Pendidikan progresif saat ini menekankan perlunya
menghadirkan kembali proses awal belajar yang menyenangkan, bahkan humor itu
sendiri adalah cara yang baik untuk belajar jadi kaitkanlah humor dengan
belajar.
19) Ajarilah orang lain, Yakni setiap
orang mengajari seorang lain, bahwa setiap orang bisa menjadi guru.
20) Ikutilah kursus sistem belajar
cepat. Pada masalah ini berkonsentrasi pada tip-tip sederhana yang dapat
dilakukan sendiri adalah cara yang baik akan tetapi cara terbaik untuk
mempelajari seluruh prinsip tersebut yaitu dengan mengikuti kursus sistem
belajar cepat dan spesifik, metode-metode sederhana membantu akan membantu
mengingat apa saha secara lebih efektif, bahkan tanpa perlu melakukan studi
terperinci atas teknik-teknik dalam sistem belajar cepat terpadu.
LEARNING REVOLUTION
DAN
ACCELERATED LEARNING
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Belajar merupakan suatu proses internalisasi pengetahuan dalam diri individu. Aktivitas belajar akan berlangsung efektif apabila seseorang yang belajar berada dalam keadaan positif dan bebas dari tertekan. Selama ini proses belajar yang berlangsung di sekolah maupun program-program pelatihan yang diselenggarakan cenderung berlangsung dalam suasana yang monoton dan membosankan. Dalam kondisi ini guru hanya menuangkan ilmu pengetahuan kedalam kepala siswa yang berlaku pasif. Materi yang diajarkan hanya diceramahkan tanpa ada upaya untuk melibatkan potensi siswa untuk berfikir dan memberi respon terhadap pengetahuan yang ditransfer. Kadang–kadang aktivitas belajar disertai dengan ancaman yang membuat siswa cenderung mencari selamat. Aktivas belajar seperti ini, jelas tidak akan membuat pembelajar dapat menciptakan pengetahuan secara optimal.
Agar dapat mengatasi permasalahan tersebut banyak perubahan mendasar yang perlu dilakukan agar dapat membantu siswa mengembangkan potensi yang dimiliki menjadi kompentesi aktual. Perubahan mendasar yang perlu dilakukan mencakup penggunaan strategi dan metode pembalajaran yang dapat menjadikan proses belajar bukan lagi sebuah proses yang menakutkan tapi menjadi sebuah proses yang menyenangkan dan dapat membuat seseorang berkreasi dengan pengetahuan yang dipelajarinya.
Upaya pembaharuan pendidikan sebagaimana yang tertuang di dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Tahun 2003, adalah reorientasi pendidikan ke arah pendidikan berbasis kompetensi. Di dalam pembelajaran berbasis kompetensi tersebut tersirat adanya nilai-nilai pembentukan manusia Indonesia seutuhnya, sebagai pribadi yang integral, produktif, kreatif dan memiliki sikap kepemimpinan dan berwawasan keilmuan sebagai warga negara yang bertanggung jawab. Indikator ini akan terwujud apabila diiringi dengan upaya peningkatan mutu dan relevansi sumber daya manusia (SDM) melalui proses pada berbagai jenjang pendidikan.
B. RUMUSAN MASALAH
Untuk lebih memfokuskan pada pembahasan maka kami sebagai pemakalah memberikan rumusan masalah sebagai berikut :
• Learning Revolution Dalam Pembelajaran.
• Strategi dan Implementasi Learning Revolution
• Accelerated Learning Dalam Pembelajaran
Strategi dan Implementasi Accelerated Learning
BAB III
PEMBAHASAN
1. LEARNING REVOLUTION DALAM PEMBELAJARAN
Jika kita melihat suatu permainan yang baru, besar kemungkinan kita akan menganggap permainan itu sulit. Tetapi setelah kita mengetahui cara atau teknik permainan tersebut, tentu kita akan menganggap permainan itu mudah, bahkan mungkin akan sangat menggemarinya.
Sebenarnya demikian juga dengan belajar. Ketika kita telah memahami cara belajar yang benar maka belajar menjadi sebuah kegiatan yang sangat menyenangkan bagi siapapun. Sementara sebagai guru, kita seringkali mendapati siswa yang mengeluh karena kesulitan dalam belajar atau bahkan tidak menyenangi kegiatan belajar.
Tak sedikit siswa menganggap belajar sebagai sebuah beban atau momok. Jika sudah demikian, siswa akan terus mengalami kesulitan untuk menerima pelajaran apapun. Maka potensi besar yang ada dalam diri setiap siswa pun tidak tergali secara maksimal.
Mengajarkan cara belajar agar dapat menggali potensi yang ada sebenarnya merupakan bagian dari revolusi belajar. Saat ini revolusi belajar telah banyak diterapkan di berbagai tingkatan sekolah terutama pada beberapa sekolah unggulan dan bimbingan belajar. Revolusi belajar sendiri dapat diartikan suatu kegiatan belajar yang memanfaatkan serta menyelaraskan cara kerja otak kiri dan kanan. Karena sebenarnya konsep revolusi belajar didasarkan pada fungsi dan struktur otak manusia, yang terdiri dari belahan kiri dan kanan atau disebut otak kiri dan otak kanan.
Di dalam bukunya yang berjudul Revolusi Belajar untuk Anak, Bob Samples (2002) melontarkan gagasan menakjubkan tentang : (1) Fungsi otak-pikiran sebagai sistem terbuka; (2) Modalitas, kecerdasan, gaya, dan kreatifitas dalam belajar, serta cara-cara mengembangkannya: (3) Pemanfaatan musik, suara, relaksasi, gambar, humor, dan mimpi untuk membangun suasana bermain dan belajar secara efektif serta mengasyikkan dengan anak-anak, tanpa mengurangi hakikat pembelajaran; (4) Aktivitas, kiat, dan saran yang mudah dilakukan untuk mengembangkan kemampuan belajar dan mengakses informasi melalui seluruh modalitas belajar yang kita miliki.
Bob Samples adalah pengarang enam buku, termasuk karya klasik Metaphoric Mind. Sejak 1960-an dia mengabdikan dirinya untuk menyelidiki masalah pembelajaran. Tulisan dan karya filmnya telah memenangi berbagai
penghargaan nasiona
Adapun revolusi belajar yang dapat dilakukan meliputi : bagaimana cara membaca, cara menghapal, serta bagaimana cara berpikir kreatif. Salah satu metode membaca yang baik adalah dengan menggunak metode SQ3R: survey (meninjau), question (bertanya), read (membaca), recite (menuturkan) , dan review (mengulang).
Disamping itu perlu juga memperhatikan tipe modalitas belajar dari masing-masing siswa. Secara umum tipe modalitas belajar dapat dibagi menjadi tiga yakni : visual, auditorial dan kinestetik. Seorang guru hendaklah memperhatikan aspek modalitas belajar para siswanya. Artinya seorang guru harus mempu memfasilitasi semua tipe modalitas belajar dari para siswanya. Bukan sebaliknya, hanya memperhatikan hanya salah satu tipe modalitas belajar saja.
Modalitas belajar adalah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang dalam menyerap segala macam pelajaran atau pengetahuan. Siswa yang memiliki tipe belajar visual akan lebih cepat menangkap pelajaran berupa gambar atau grafik. Tipe modalitas belajar auditorial biasanya mudah menangkap materi pelajaran jika melalui suara. Sedangkan tipe belajar kinestetis adalah tipe belajar yang lebih cenderung pada kegiatan melakukan praktek secara langsung.
2. STRATEGI DAN IMPLEMENTASI LEARNING REVOLUTION
Menurut Albert Einstein “Tampaknya, peristiwa paling buruk (di dunia ini) adalah jika sekolah dijalankan dengan metode ancaman, paksaan, dan autoritas semu”.
Bob Samples sepertinya menyimpan kecemasan yang sama dengan Einstein
ketika berbicara tentang sistem belajar di sekolah. Mengawali karir
sebagai seorang guru sekolah anak-anak, Samples sangat memahami bahwa
sistem sekolah yang kaku, dogmatis, searah, pasif, dan tertutup akan
membelenggu kebebasan siswa untuk berekspresi. Sistem ini pada akhirnya
membuat mereka menjadi manusia yang tidak kreatif dan berwawasan sempit.
Mengajarkan cara belajar yang dapat menggali potensi yang ada pada siswa sebenarnya merupakan bagian dari revolusi belajar. Saat ini revolusi belajar telah banyak diterapkan diberbagai tingkatan sekolah terutama pada beberapa sekolah unggulan dan bimbingan belajar. Revolusi belajar sendiri dapat diartikan suatu kegiatan belajar yang memanfaatkan serta menyelaraskan cara kerja otak kiri dan kanan. Karena sebenarnya konsep revolusi belajar didasarkan pada fungsi dan struktur otak manusia. Sebagaimana kita ketahui manusia dianugrahi otak yang terdiri dari belahan kiri dan kanan atau disebut otak kiri dan otak kanan.
Ternyata kedua otak tersebut memiliki karakteristik yang berbeda. Otak kanan memiliki sifat long term memory atau mampu mengingat dalam jangka waktu yang lebih lama. Kegiatan otak kanan lebih pada pengolahan informasi yang berupa irama, musik, imajinasi, emosi, warna, gambar dan diagram. Sedangkan otak kiri yang tergolong short term memory atau mengingat dalam jangka waktu yang lebih pendek. Otak Kiri berkaitan dengan kemampuan verbal, matematis, analitis, sistematis dan bersifat logis. Aktifitas yang dapat direspon secara baik oleh otak kiri diantaranya adalah membaca, menulis dan berhitung.
Salah satu tokoh utama di balik pembelajaran adalah Bobbi DePorter, seorang ibu rumah tangga yang kemudian terjun di bidang bisnis properti dan keuangan, dan setelah semua bisnisnya bangkrut akhirnya menggeluti bidang pembelajaran. Dialah perintis, pencetus, dan pengembang utama pembelajaran. Semenjak tahun 1982 DePorter mematangkan dan mengembangkan gagasan pembelajaran di Super Camp, sebuah lembaga pembelajaran yang terletak Kirkwood Meadows, Negara Bagian California, Amerika Serikat. Super Camp sendiri didirikan atau dilahirkan oleh Learning Forum, sebuah perusahahan yang memusatkan perhatian pada hal pembelajaran guna pengembanga potensi diri manusia. Dengan dibantu oleh teman-temannya, terutama Eric Jansen, Greg Simmons, Mike Hernacki, Mark Reardon, dan Sarah Singer Nourie, DePorter secara terprogram dan terencana mengujicobakan gagasan-gagasan pembelajaran kepada para remaja di Super Camp selama tahun-tahun awal dasawarsa 1980an
Menurut Bobby DePotter “Karena hasil tidak memuaskan yang dicapai sekolah-sekolah umum, Quantum Learning menjadi suatu keharusan. Kita hidup dalam dunia yang penuh tantangan”
Konsep itu sukses diterapkan di Super Camp, lembaga kursus yang dibangun de Porter. Dilakukan sebuah penelitian untuk disertasi doktroral pada 1991, yang melibatkan sekitar 6.042 responden. Dari penelitian itu, Super Camp berhasil mendongkrak potensi psikis siswa
Kata Quantum sendiri berarti interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya. Jadi Quantum Teaching menciptakan lingkungan belajar yang efektif, dengan cara menggunakan unsur yang ada pada siswa dan lingkungan belajarnya melalui interaksi yang terjadi di dalam kelas.
Quantum Teaching dan Quantum Learning merupakan model pembelajaran yang sama-sama dikemas Bobbi DePorter yang diilhami dari konsep kepramukaan, dan belajar melalui berbuat.
Quantum Teaching diarahkan untuk proses pembelajaran guru saat berada di kelas, berhadapan dengan siswa, merencanakan pembelajaran, dan mengevaluasinya. Pola Quantum Teaching terangkum dalam konsep TANDUR, yakni Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi, dan Rayakan.
Dari proses inilah, quantum learning menciptakan konsep motivasi, langkah-langkah menumbuhkan minat, dan belajar aktif. Membuat simulasi konsep belajar aktif dengan gambaran kegiatan seperti: “belajar apa saja dari setiap situasi, menggunakan apa yang Anda pelajari untuk keuntungan anda, mengupayakan agar segalanya terlaksana, bersandar pada kehidupan”.
Quantum Learning merupakan konsep untuk pembelajar agar dapat menyerap fakta, konsep, prosedur, dan prinsip sebuah ilmu dengan cara cepat, menyenangkan, dan berkesan. Jadi, Quantum Teaching diperuntukkan guru dan Quantum Learning diperuntukkan siswa atau masyarakat umum sebagai pembelajar. Sebagai guru tentunya perlu mendalami keduanya agar bisa menyerap konsep secara utuh dan terintegrasi.
Sebagai seorang guru yang profesional tentu kita berkewajiban untuk terus berupaya memotivasi dan menjaga semangat belajar siswanya. Namun disamping itu ada yang lebih penting, yakni mengenalkan sekaligus mengajarkan cara atau seni belajar kepada siswa. Sehingga nantinya siswa akan merasa enjoy dalam belajar. Karena cara belajar adalah kunci dari kegiatan belajar itu sendiri. Sekolah akan menjadi suatu tempat yang menyenangkan dan tidak lagi dianggap sebagai tempat yang memenjarakan bagi para siswa.
Cara berpikir kreatif yakni berpikir dengan sudut pandang yang berbeda, berpikir optimis karena semua dapat kita kerjakan dan meninggalkan gaya berpikir konservatif. Berkat berpikir kreatif inilah karya dan kesuksesan besar diraih, sehingga tidaklah berlebihan jika berpikir kreatif merupakan kunci keberhasilan. Diharapkan dengan menerapkan revolusi belajar dalam pembelajaran dapat menggali dan melejitkan potensi siswa yang masih tersembunyi. Bagaimanapun setiap siswa memiliki potensi untuk mengantarkannya ke sebuah gerbang kesuksesanya.
3. ACCELERATED LEARNING DALAM PEMBELAJARAN
Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi membuat kita perlu untuk memperbaharui pendekatan kita terhadap pembelajaran, Kepentingan untuk menemukan cara cara mempercepat dan mengoptimalkan belajar menjadi suatu keniscayaan, karena kita memang saat ini berada dalam kebudayaan belajar yang belum pernah ada dalam sejarah perkembangan belajar itu sendiri.
Accelerated Learning sebagai cara untuk menciptakan aktivitas belajar menjadi sebuah proses yang menyenangkan. Accelerated Learning merupakan pendekatan belajar yang lebih maju dari pada yang digunakan saat ini.
Implementasi Accelerated Learning pada proses belajar di sekolah dapat memberikan beberapa keuntungan. Accelerated Learning didasarkan riset terakhir tentang perkembangan otak dan belajar. Saat ini Accelerated Learning digunakan dengan memanfaatkan metode dan media yang bervariasi dan bersifat terbuka serta fleksibel.
Accelerated artinya dipercepat dan learning artinya pembelajaran. Jadi, the accelerated learning artinya pembelajaran yang dipercepat. Konsep dasar dari pembelajaran ini adalah bahwa pembelajaran itu berlangsung secara cepat, menyenangkan dan memuaskan.
Pemilik konsep ini, Dave Meier yang memaparkan Accelerated Learning merupakan pendekatan pembelajaran terdepan yang didasarkan pada penelitian paling maju mengenai otak dan belajar. Pendekatan pembelajaran ini memungkinkan kita untuk menggunakan berbagai metode dan media belajar, bersifat fleksibel, terbuka dan yang terpenting bahwa peserta didik diajak sepenuhnya dalam proses pembelajaran, hal inilah yang membuat Accelerated Learning cocok dengan semua gaya belajar serta memberi energi dan membuat proses belajar menjadi manusiawi kembali.
Metode-metode yang ditawarkan Accelerated Learning tidak kaku melainkan sangatlah bervariasi tergantung dengan karakter peserta didik, organisasi, dan pokok bahasan itu sendiri. Pada dasarnya mengajar bukanlah menerapkan suatu sistem, akan tetapi lebih merupakan suatu kegiatan menjalankan kebijaksanaan secara terus menerus (Jacques Barzun, 2001) dan bagaimanapun yang terpenting adalah hasil belajar bukan metode mengajarnya.
4. STRATEGI DAN IMPLEMENTASI ACCELERATED LEARNING
Accelerated learning memiliki salah satu ciri belajar “gembira dan menyenangkan”. Ketika kita senang dan menikmati belajar, kita akan belajar lebih baik.
Bagaimana kita menjadikan belajar itu menjadi menyenangkan dan berhasil ? caranya antara lain :
1. Menciptakan lingkungan tanpa stes (releks), lingkungan yang aman untuk melakukan kesalahan , namun harapan untuk sukses tinggi.
2. Menjamin bahwa subyek pelajaran adalah relevan. Belajar ketika melihat manfaatdan pentingnya pelajaran.
3. Belajar secara emosional adalah positif.
4. Melibatkan secara sadar semua indera dan juga pikiran otak kiri dan otak kanan.
5. Menantang otak agar dapat berpikir jauh ke depan dan mengekplorasi apa yangsedang dipelajari dengan sebanyak mungkin mengikutsertakan kecerdasan yangrelevan untuk memahami subyek pelajaran.
6. Mengkonsolidasi bahan yang dipelajari, dengan meninjau ulang periode-periodewaspada yang relaks.
Kepentingan untuk menemukan cara cara mempercepat dan mengoptimalkan belajar menjadi suatu keniscayaan, karena kita memang saat ini berada dalam kebudayaan belajar yang belum pernah ada dalam sejarah perkembangan belajar itu sendiri.
Tujuan Accelerated Learning ialah menggugah memampuan belajar, membuat belajar lebih menyenangkan dan memuaskan, serta memberikan sumbangan sepenuhnya pada kebahagiaan, kecerdasan, kompetensi, dan keberhasilan mereka sebagai manusia.
Maier berpendapat bahwa dalam melakukan aktivitas belajar, individu pada dasarnya melalui empat tahap penting yaitu :
1. Persiapan (preparation)
2. Presentasi (presentation)
3. Latihan (practice)
4. Performa (performance)
Proses belajar dimulai dari adanya minat untuk mempelajari sesuatu. Untuk melakukan aktivitas belajar, individu melakukan persiapan yang relevan dengan usaha yang diperlukan untuk melakukan aktivitas belajar. Adanya minat untuk mempelajari suatu pengetahuan atau keterampilan diikuti dengan tahap berikutnya yaitu presentasi. Dalam tahap ini individu mulai berkenalan dengan pengetahuan dan keterampilan yang diminati untuk dipelajari.
Tahap selanjutnya adalah tahap latihan atau practice. Pada tahap ini individu mulai mengintegrasikan pengetahuan dan keterampilan yang dipelejari dengan pengetahuan dan keterapilan yang telah dikuasai sebelumnya. Tahap akhir dari proses belajar adalah tahap saat individu memperlihatkan performa melalui aplikasi pengetahuan dan keterampilan yang telah dipelajari dalam situasi yang nyata.
Accelerated Learning berusaha menempatkan pelajar dalam lingkungan yang positif secara fisik dan emosional dan sosial, serta memberi pengalaman belajar dengan menerjunkan diri secara lansung dan sedekat mungkin dengan dunia nyata.
Dave Meier, menyarankan kepada guru agar dalam mengelola kelas menggunakan pendekatan somatic, auditory, visual dan intellectual (SAVI).
Somatic dimaksudkan sebagai learning by moving and doing (belajar dengan bergerak dan berbuat).
Auditory adalah learning by talking and bearing (belajar dengan berbicara dan mendengarkan).
Visual diartikan learning by observing and picturing (belajar dengan mengamati dan menggambarkan).
Intellectual maksudnya adalah learning by problem solving and reflecting (belajar dengan pemecahan masalah dan melakukan refleksi).
Riset tentang otak mempunyai peran penting dalam konsep akselarasi belajar. Untuk dapat mengimplementasikan Accelerated Learning dengan baik, pengetahuan tentang otak dan belajar dangat perlu diperhatikan. Riset tentang peran otak dalam aktivitas belajar manusia belakangan berkembang sangat pesat melebihi yang telah dilakukan sebelumnya. Sama dengan organ tubuh manusia yang lainnya, otak memperlihatkan kinerja yang luar biasa mengagumkan. Otak telah memberikan kontribusi yang luar biasa terhadap perkembangan dan kemajuan peradaban manusia. Otak, menurut Meier, tidak pernah berhenti sedektikpun untuk mengungkap tabir pengetahuan dan kehidupan.
Hasil riset mutakhir tentang otak memperlihatkan dan belajar menunjukkan bahwa otak terdiri dari dua belahan (hemisphere) yaitu belahan otal bagian kiri (left hemisphere) dan belahan otak bagian kanan (right brain hemisphere). Belahan otak bagian kiri terkait dengan hal-hal yamg bersifat logis dan sistematis. Sedangkan belahan otak bagian kanan lebih banyak berhubungan dengan aktivitas yang bersifat kreatif.
Selama ini aktivitas pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah lebih banyak menekankan pada penggunaan belahan otak kiri yang membuat individu berfikir logis dan sistematis berdasarkan aturan-aturan yang telah baku. Belahan otak kanan yang merupakan otak kreatif tidak dimanfaatkan secara optimal untuk menciptakan sesuatu yang bersifat innovatif.
Riset lain tentang peran otak dalam aktivitas belajar menhasilkan sebuah teori baru yaitu “triune theory”. Menurut teori ini Otak dibagi menjadi tiga bagian yaitu :
1. The neocortex
The Neocortex merupakan bagian yang berisi 80 – 85 % massa otak manusia. Bagian ini merupakan esensi dari fungsi aktivitas mental tinggi (analisis, kreativitas). Bagian ini yang membuat manusia unik dibandingkan mahluk lain dimula bumi.
2. The lymbic system
The lymbic system adalah pusat emosi manusia. Bagian otak ini disebut sebagai bagian sosioemosional. The lymbic system juga memiliki bagian esensial yang berperan dalam memori jangka panjang (long term memory) manusia.
3. The brain stem
The brain stem dikenal juga dengan sebutan otak reptil atau the reptilian brain berperan dalam mengendalikan fungsi tubuh yang bersifat otomatis seperti detak jantung, pernafasan dan pencernaan. Bagai berkaitan juga dengan sifat instinktif manusia. Otak ini akan bekerja jka manusia mendapat ancaman. Bagian otak ini akan melindungi manusia agar tetap hidup (survive).
Manusia harus dapat menyeimbangkan peran semua bagian otak. Dalam belajar bagian neocortexharus selalu dominan karena merupakan bagian otak yang terkait dengan fungsi berfikir tingkat tinggi seperti analisis, sintesis dan kreativitas.
Triune theory mengemukakan bahwa “A Sense of Joy” yaitu belajar harus dalam kondisi yang menyenangkan.
Menurut triune theory proses belajar akan menjadi lebih cepat dan mendalam apabila seluruh otak terlibat didalamnya. Manakala perasaan seseorang sedang dalam kondisi positif, maka dia akan berada dalam keadaan relaks. Dia akan menggunakan neocortex – otak untuk belajar. Sebaliknya, manakala seseorang berada dalam situasi negatif, individu akan menggunakan otak reptil – untuk “survive” maka proses belajar akan melambat dan bahkan berhenti.
Menurut Meier implementasi Accelerated Learning memberikan keuntungan dalam hal:
• Ignite your creative imagination – menciptakan imajinasi kreatif siswa
• Get learner totally involved – membuat siswa terlibat total
• Create healthier learning environments – menciptakan lingkungan belajar yang sehat
• Speed and enhance learning – mempercepat dan memperkaya belajar
• Improve retention and job performance – meningkatkan daya ingat dan performa
• Speed the design process – memepercepat proses rancangan belajar
• Build effective learning communities – membangun masyarakat belajar yang efektif
Greatly improve technology-driven learning – meningkatkan penggunaan teknologi dalam pembelajaran
Adapun persiapan dalam implementasi Accelerated Learning adalah sebagai berikut :
• Get learners out of a passive or resistant mental state – Menyiapkan mental siswa menjadi aktif.
• Remove learning barriers – Menghapus hambatan-hambatan dalam belajar.
• Arouse learners’ interest and curiosity – Meningkatkan minat dan rasa ingin tahu siswa.
• Give learner positive learning about, and a meaningful relationship with, the subject matter – Membuat siswa berfikir prositif tentang materi pelajaran
• Create active learners who inspired to think, learn, create, and grow – Ciptakan siswa yang akti yang dapat berfikir dan mencipta
Get people out of isolation and into a learning community – Buat siswa keluar dari isolasi dan ajaklah mereka melihat masyarakat disekitar
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Revolusi belajar sendiri dapat diartikan suatu kegiatan belajar yang memanfaatkan serta menyelaraskan cara kerja otak kiri dan kanan. Karena sebenarnya konsep revolusi belajar didasarkan pada fungsi dan struktur otak manusia, yang terdiri dari belahan kiri dan kanan atau disebut otak kiri dan otak kanan.
Aktivitas pembelajaran yang dilakukan di sekolah perlu mempertimbangkan teori pembelajaran akselerasi yang dapat membuat proses belajar tidak lagi merupakan suatu yang menakutkan.
B. SARAN-SARAN
Untuk mendapatkan informasi mengenai revolusi belajar,macam-macam gaya belajar, macam-macam kecerdasan seseorang maka,serta pengertian percepatan belajar disarankan untuk membaca artikel atau sumber belajar lain yang juga dapat digunakan sebagai acuan pada saat belajar.
DAFTAR PUSTAKA
De Porter, Bobbi & Hernachi, Mike. 2002. Quantum Learning. Bandung:Kaifa
Meier Dave, 2002. Handbook The Accelerated Learning, Penerbit Kaifa Bandung.
Revolusi Belajar Dalam Pembelajaran, http://downixs.wordpress.com/
Revolusi Belajar, http://thegoebbeiz.wordpress.com
Accelerated Learning, http://lulamontes.wordpress.com
Accelerated Learning, http://supraptojielwongsolo.wordpress.com
DAN
ACCELERATED LEARNING
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Belajar merupakan suatu proses internalisasi pengetahuan dalam diri individu. Aktivitas belajar akan berlangsung efektif apabila seseorang yang belajar berada dalam keadaan positif dan bebas dari tertekan. Selama ini proses belajar yang berlangsung di sekolah maupun program-program pelatihan yang diselenggarakan cenderung berlangsung dalam suasana yang monoton dan membosankan. Dalam kondisi ini guru hanya menuangkan ilmu pengetahuan kedalam kepala siswa yang berlaku pasif. Materi yang diajarkan hanya diceramahkan tanpa ada upaya untuk melibatkan potensi siswa untuk berfikir dan memberi respon terhadap pengetahuan yang ditransfer. Kadang–kadang aktivitas belajar disertai dengan ancaman yang membuat siswa cenderung mencari selamat. Aktivas belajar seperti ini, jelas tidak akan membuat pembelajar dapat menciptakan pengetahuan secara optimal.
Agar dapat mengatasi permasalahan tersebut banyak perubahan mendasar yang perlu dilakukan agar dapat membantu siswa mengembangkan potensi yang dimiliki menjadi kompentesi aktual. Perubahan mendasar yang perlu dilakukan mencakup penggunaan strategi dan metode pembalajaran yang dapat menjadikan proses belajar bukan lagi sebuah proses yang menakutkan tapi menjadi sebuah proses yang menyenangkan dan dapat membuat seseorang berkreasi dengan pengetahuan yang dipelajarinya.
Upaya pembaharuan pendidikan sebagaimana yang tertuang di dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Tahun 2003, adalah reorientasi pendidikan ke arah pendidikan berbasis kompetensi. Di dalam pembelajaran berbasis kompetensi tersebut tersirat adanya nilai-nilai pembentukan manusia Indonesia seutuhnya, sebagai pribadi yang integral, produktif, kreatif dan memiliki sikap kepemimpinan dan berwawasan keilmuan sebagai warga negara yang bertanggung jawab. Indikator ini akan terwujud apabila diiringi dengan upaya peningkatan mutu dan relevansi sumber daya manusia (SDM) melalui proses pada berbagai jenjang pendidikan.
B. RUMUSAN MASALAH
Untuk lebih memfokuskan pada pembahasan maka kami sebagai pemakalah memberikan rumusan masalah sebagai berikut :
• Learning Revolution Dalam Pembelajaran.
• Strategi dan Implementasi Learning Revolution
• Accelerated Learning Dalam Pembelajaran
Strategi dan Implementasi Accelerated Learning
BAB III
PEMBAHASAN
1. LEARNING REVOLUTION DALAM PEMBELAJARAN
Jika kita melihat suatu permainan yang baru, besar kemungkinan kita akan menganggap permainan itu sulit. Tetapi setelah kita mengetahui cara atau teknik permainan tersebut, tentu kita akan menganggap permainan itu mudah, bahkan mungkin akan sangat menggemarinya.
Sebenarnya demikian juga dengan belajar. Ketika kita telah memahami cara belajar yang benar maka belajar menjadi sebuah kegiatan yang sangat menyenangkan bagi siapapun. Sementara sebagai guru, kita seringkali mendapati siswa yang mengeluh karena kesulitan dalam belajar atau bahkan tidak menyenangi kegiatan belajar.
Tak sedikit siswa menganggap belajar sebagai sebuah beban atau momok. Jika sudah demikian, siswa akan terus mengalami kesulitan untuk menerima pelajaran apapun. Maka potensi besar yang ada dalam diri setiap siswa pun tidak tergali secara maksimal.
Mengajarkan cara belajar agar dapat menggali potensi yang ada sebenarnya merupakan bagian dari revolusi belajar. Saat ini revolusi belajar telah banyak diterapkan di berbagai tingkatan sekolah terutama pada beberapa sekolah unggulan dan bimbingan belajar. Revolusi belajar sendiri dapat diartikan suatu kegiatan belajar yang memanfaatkan serta menyelaraskan cara kerja otak kiri dan kanan. Karena sebenarnya konsep revolusi belajar didasarkan pada fungsi dan struktur otak manusia, yang terdiri dari belahan kiri dan kanan atau disebut otak kiri dan otak kanan.
Di dalam bukunya yang berjudul Revolusi Belajar untuk Anak, Bob Samples (2002) melontarkan gagasan menakjubkan tentang : (1) Fungsi otak-pikiran sebagai sistem terbuka; (2) Modalitas, kecerdasan, gaya, dan kreatifitas dalam belajar, serta cara-cara mengembangkannya: (3) Pemanfaatan musik, suara, relaksasi, gambar, humor, dan mimpi untuk membangun suasana bermain dan belajar secara efektif serta mengasyikkan dengan anak-anak, tanpa mengurangi hakikat pembelajaran; (4) Aktivitas, kiat, dan saran yang mudah dilakukan untuk mengembangkan kemampuan belajar dan mengakses informasi melalui seluruh modalitas belajar yang kita miliki.
Bob Samples adalah pengarang enam buku, termasuk karya klasik Metaphoric Mind. Sejak 1960-an dia mengabdikan dirinya untuk menyelidiki masalah pembelajaran. Tulisan dan karya filmnya telah memenangi berbagai
penghargaan nasiona
Adapun revolusi belajar yang dapat dilakukan meliputi : bagaimana cara membaca, cara menghapal, serta bagaimana cara berpikir kreatif. Salah satu metode membaca yang baik adalah dengan menggunak metode SQ3R: survey (meninjau), question (bertanya), read (membaca), recite (menuturkan) , dan review (mengulang).
Disamping itu perlu juga memperhatikan tipe modalitas belajar dari masing-masing siswa. Secara umum tipe modalitas belajar dapat dibagi menjadi tiga yakni : visual, auditorial dan kinestetik. Seorang guru hendaklah memperhatikan aspek modalitas belajar para siswanya. Artinya seorang guru harus mempu memfasilitasi semua tipe modalitas belajar dari para siswanya. Bukan sebaliknya, hanya memperhatikan hanya salah satu tipe modalitas belajar saja.
Modalitas belajar adalah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang dalam menyerap segala macam pelajaran atau pengetahuan. Siswa yang memiliki tipe belajar visual akan lebih cepat menangkap pelajaran berupa gambar atau grafik. Tipe modalitas belajar auditorial biasanya mudah menangkap materi pelajaran jika melalui suara. Sedangkan tipe belajar kinestetis adalah tipe belajar yang lebih cenderung pada kegiatan melakukan praktek secara langsung.
2. STRATEGI DAN IMPLEMENTASI LEARNING REVOLUTION
Menurut Albert Einstein “Tampaknya, peristiwa paling buruk (di dunia ini) adalah jika sekolah dijalankan dengan metode ancaman, paksaan, dan autoritas semu”.
Bob Samples sepertinya menyimpan kecemasan yang sama dengan Einstein
ketika berbicara tentang sistem belajar di sekolah. Mengawali karir
sebagai seorang guru sekolah anak-anak, Samples sangat memahami bahwa
sistem sekolah yang kaku, dogmatis, searah, pasif, dan tertutup akan
membelenggu kebebasan siswa untuk berekspresi. Sistem ini pada akhirnya
membuat mereka menjadi manusia yang tidak kreatif dan berwawasan sempit.
Mengajarkan cara belajar yang dapat menggali potensi yang ada pada siswa sebenarnya merupakan bagian dari revolusi belajar. Saat ini revolusi belajar telah banyak diterapkan diberbagai tingkatan sekolah terutama pada beberapa sekolah unggulan dan bimbingan belajar. Revolusi belajar sendiri dapat diartikan suatu kegiatan belajar yang memanfaatkan serta menyelaraskan cara kerja otak kiri dan kanan. Karena sebenarnya konsep revolusi belajar didasarkan pada fungsi dan struktur otak manusia. Sebagaimana kita ketahui manusia dianugrahi otak yang terdiri dari belahan kiri dan kanan atau disebut otak kiri dan otak kanan.
Ternyata kedua otak tersebut memiliki karakteristik yang berbeda. Otak kanan memiliki sifat long term memory atau mampu mengingat dalam jangka waktu yang lebih lama. Kegiatan otak kanan lebih pada pengolahan informasi yang berupa irama, musik, imajinasi, emosi, warna, gambar dan diagram. Sedangkan otak kiri yang tergolong short term memory atau mengingat dalam jangka waktu yang lebih pendek. Otak Kiri berkaitan dengan kemampuan verbal, matematis, analitis, sistematis dan bersifat logis. Aktifitas yang dapat direspon secara baik oleh otak kiri diantaranya adalah membaca, menulis dan berhitung.
Salah satu tokoh utama di balik pembelajaran adalah Bobbi DePorter, seorang ibu rumah tangga yang kemudian terjun di bidang bisnis properti dan keuangan, dan setelah semua bisnisnya bangkrut akhirnya menggeluti bidang pembelajaran. Dialah perintis, pencetus, dan pengembang utama pembelajaran. Semenjak tahun 1982 DePorter mematangkan dan mengembangkan gagasan pembelajaran di Super Camp, sebuah lembaga pembelajaran yang terletak Kirkwood Meadows, Negara Bagian California, Amerika Serikat. Super Camp sendiri didirikan atau dilahirkan oleh Learning Forum, sebuah perusahahan yang memusatkan perhatian pada hal pembelajaran guna pengembanga potensi diri manusia. Dengan dibantu oleh teman-temannya, terutama Eric Jansen, Greg Simmons, Mike Hernacki, Mark Reardon, dan Sarah Singer Nourie, DePorter secara terprogram dan terencana mengujicobakan gagasan-gagasan pembelajaran kepada para remaja di Super Camp selama tahun-tahun awal dasawarsa 1980an
Menurut Bobby DePotter “Karena hasil tidak memuaskan yang dicapai sekolah-sekolah umum, Quantum Learning menjadi suatu keharusan. Kita hidup dalam dunia yang penuh tantangan”
Konsep itu sukses diterapkan di Super Camp, lembaga kursus yang dibangun de Porter. Dilakukan sebuah penelitian untuk disertasi doktroral pada 1991, yang melibatkan sekitar 6.042 responden. Dari penelitian itu, Super Camp berhasil mendongkrak potensi psikis siswa
Kata Quantum sendiri berarti interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya. Jadi Quantum Teaching menciptakan lingkungan belajar yang efektif, dengan cara menggunakan unsur yang ada pada siswa dan lingkungan belajarnya melalui interaksi yang terjadi di dalam kelas.
Quantum Teaching dan Quantum Learning merupakan model pembelajaran yang sama-sama dikemas Bobbi DePorter yang diilhami dari konsep kepramukaan, dan belajar melalui berbuat.
Quantum Teaching diarahkan untuk proses pembelajaran guru saat berada di kelas, berhadapan dengan siswa, merencanakan pembelajaran, dan mengevaluasinya. Pola Quantum Teaching terangkum dalam konsep TANDUR, yakni Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi, dan Rayakan.
Dari proses inilah, quantum learning menciptakan konsep motivasi, langkah-langkah menumbuhkan minat, dan belajar aktif. Membuat simulasi konsep belajar aktif dengan gambaran kegiatan seperti: “belajar apa saja dari setiap situasi, menggunakan apa yang Anda pelajari untuk keuntungan anda, mengupayakan agar segalanya terlaksana, bersandar pada kehidupan”.
Quantum Learning merupakan konsep untuk pembelajar agar dapat menyerap fakta, konsep, prosedur, dan prinsip sebuah ilmu dengan cara cepat, menyenangkan, dan berkesan. Jadi, Quantum Teaching diperuntukkan guru dan Quantum Learning diperuntukkan siswa atau masyarakat umum sebagai pembelajar. Sebagai guru tentunya perlu mendalami keduanya agar bisa menyerap konsep secara utuh dan terintegrasi.
Sebagai seorang guru yang profesional tentu kita berkewajiban untuk terus berupaya memotivasi dan menjaga semangat belajar siswanya. Namun disamping itu ada yang lebih penting, yakni mengenalkan sekaligus mengajarkan cara atau seni belajar kepada siswa. Sehingga nantinya siswa akan merasa enjoy dalam belajar. Karena cara belajar adalah kunci dari kegiatan belajar itu sendiri. Sekolah akan menjadi suatu tempat yang menyenangkan dan tidak lagi dianggap sebagai tempat yang memenjarakan bagi para siswa.
Cara berpikir kreatif yakni berpikir dengan sudut pandang yang berbeda, berpikir optimis karena semua dapat kita kerjakan dan meninggalkan gaya berpikir konservatif. Berkat berpikir kreatif inilah karya dan kesuksesan besar diraih, sehingga tidaklah berlebihan jika berpikir kreatif merupakan kunci keberhasilan. Diharapkan dengan menerapkan revolusi belajar dalam pembelajaran dapat menggali dan melejitkan potensi siswa yang masih tersembunyi. Bagaimanapun setiap siswa memiliki potensi untuk mengantarkannya ke sebuah gerbang kesuksesanya.
3. ACCELERATED LEARNING DALAM PEMBELAJARAN
Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi membuat kita perlu untuk memperbaharui pendekatan kita terhadap pembelajaran, Kepentingan untuk menemukan cara cara mempercepat dan mengoptimalkan belajar menjadi suatu keniscayaan, karena kita memang saat ini berada dalam kebudayaan belajar yang belum pernah ada dalam sejarah perkembangan belajar itu sendiri.
Accelerated Learning sebagai cara untuk menciptakan aktivitas belajar menjadi sebuah proses yang menyenangkan. Accelerated Learning merupakan pendekatan belajar yang lebih maju dari pada yang digunakan saat ini.
Implementasi Accelerated Learning pada proses belajar di sekolah dapat memberikan beberapa keuntungan. Accelerated Learning didasarkan riset terakhir tentang perkembangan otak dan belajar. Saat ini Accelerated Learning digunakan dengan memanfaatkan metode dan media yang bervariasi dan bersifat terbuka serta fleksibel.
Accelerated artinya dipercepat dan learning artinya pembelajaran. Jadi, the accelerated learning artinya pembelajaran yang dipercepat. Konsep dasar dari pembelajaran ini adalah bahwa pembelajaran itu berlangsung secara cepat, menyenangkan dan memuaskan.
Pemilik konsep ini, Dave Meier yang memaparkan Accelerated Learning merupakan pendekatan pembelajaran terdepan yang didasarkan pada penelitian paling maju mengenai otak dan belajar. Pendekatan pembelajaran ini memungkinkan kita untuk menggunakan berbagai metode dan media belajar, bersifat fleksibel, terbuka dan yang terpenting bahwa peserta didik diajak sepenuhnya dalam proses pembelajaran, hal inilah yang membuat Accelerated Learning cocok dengan semua gaya belajar serta memberi energi dan membuat proses belajar menjadi manusiawi kembali.
Metode-metode yang ditawarkan Accelerated Learning tidak kaku melainkan sangatlah bervariasi tergantung dengan karakter peserta didik, organisasi, dan pokok bahasan itu sendiri. Pada dasarnya mengajar bukanlah menerapkan suatu sistem, akan tetapi lebih merupakan suatu kegiatan menjalankan kebijaksanaan secara terus menerus (Jacques Barzun, 2001) dan bagaimanapun yang terpenting adalah hasil belajar bukan metode mengajarnya.
4. STRATEGI DAN IMPLEMENTASI ACCELERATED LEARNING
Accelerated learning memiliki salah satu ciri belajar “gembira dan menyenangkan”. Ketika kita senang dan menikmati belajar, kita akan belajar lebih baik.
Bagaimana kita menjadikan belajar itu menjadi menyenangkan dan berhasil ? caranya antara lain :
1. Menciptakan lingkungan tanpa stes (releks), lingkungan yang aman untuk melakukan kesalahan , namun harapan untuk sukses tinggi.
2. Menjamin bahwa subyek pelajaran adalah relevan. Belajar ketika melihat manfaatdan pentingnya pelajaran.
3. Belajar secara emosional adalah positif.
4. Melibatkan secara sadar semua indera dan juga pikiran otak kiri dan otak kanan.
5. Menantang otak agar dapat berpikir jauh ke depan dan mengekplorasi apa yangsedang dipelajari dengan sebanyak mungkin mengikutsertakan kecerdasan yangrelevan untuk memahami subyek pelajaran.
6. Mengkonsolidasi bahan yang dipelajari, dengan meninjau ulang periode-periodewaspada yang relaks.
Kepentingan untuk menemukan cara cara mempercepat dan mengoptimalkan belajar menjadi suatu keniscayaan, karena kita memang saat ini berada dalam kebudayaan belajar yang belum pernah ada dalam sejarah perkembangan belajar itu sendiri.
Tujuan Accelerated Learning ialah menggugah memampuan belajar, membuat belajar lebih menyenangkan dan memuaskan, serta memberikan sumbangan sepenuhnya pada kebahagiaan, kecerdasan, kompetensi, dan keberhasilan mereka sebagai manusia.
Maier berpendapat bahwa dalam melakukan aktivitas belajar, individu pada dasarnya melalui empat tahap penting yaitu :
1. Persiapan (preparation)
2. Presentasi (presentation)
3. Latihan (practice)
4. Performa (performance)
Proses belajar dimulai dari adanya minat untuk mempelajari sesuatu. Untuk melakukan aktivitas belajar, individu melakukan persiapan yang relevan dengan usaha yang diperlukan untuk melakukan aktivitas belajar. Adanya minat untuk mempelajari suatu pengetahuan atau keterampilan diikuti dengan tahap berikutnya yaitu presentasi. Dalam tahap ini individu mulai berkenalan dengan pengetahuan dan keterampilan yang diminati untuk dipelajari.
Tahap selanjutnya adalah tahap latihan atau practice. Pada tahap ini individu mulai mengintegrasikan pengetahuan dan keterampilan yang dipelejari dengan pengetahuan dan keterapilan yang telah dikuasai sebelumnya. Tahap akhir dari proses belajar adalah tahap saat individu memperlihatkan performa melalui aplikasi pengetahuan dan keterampilan yang telah dipelajari dalam situasi yang nyata.
Accelerated Learning berusaha menempatkan pelajar dalam lingkungan yang positif secara fisik dan emosional dan sosial, serta memberi pengalaman belajar dengan menerjunkan diri secara lansung dan sedekat mungkin dengan dunia nyata.
Dave Meier, menyarankan kepada guru agar dalam mengelola kelas menggunakan pendekatan somatic, auditory, visual dan intellectual (SAVI).
Somatic dimaksudkan sebagai learning by moving and doing (belajar dengan bergerak dan berbuat).
Auditory adalah learning by talking and bearing (belajar dengan berbicara dan mendengarkan).
Visual diartikan learning by observing and picturing (belajar dengan mengamati dan menggambarkan).
Intellectual maksudnya adalah learning by problem solving and reflecting (belajar dengan pemecahan masalah dan melakukan refleksi).
Riset tentang otak mempunyai peran penting dalam konsep akselarasi belajar. Untuk dapat mengimplementasikan Accelerated Learning dengan baik, pengetahuan tentang otak dan belajar dangat perlu diperhatikan. Riset tentang peran otak dalam aktivitas belajar manusia belakangan berkembang sangat pesat melebihi yang telah dilakukan sebelumnya. Sama dengan organ tubuh manusia yang lainnya, otak memperlihatkan kinerja yang luar biasa mengagumkan. Otak telah memberikan kontribusi yang luar biasa terhadap perkembangan dan kemajuan peradaban manusia. Otak, menurut Meier, tidak pernah berhenti sedektikpun untuk mengungkap tabir pengetahuan dan kehidupan.
Hasil riset mutakhir tentang otak memperlihatkan dan belajar menunjukkan bahwa otak terdiri dari dua belahan (hemisphere) yaitu belahan otal bagian kiri (left hemisphere) dan belahan otak bagian kanan (right brain hemisphere). Belahan otak bagian kiri terkait dengan hal-hal yamg bersifat logis dan sistematis. Sedangkan belahan otak bagian kanan lebih banyak berhubungan dengan aktivitas yang bersifat kreatif.
Selama ini aktivitas pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah lebih banyak menekankan pada penggunaan belahan otak kiri yang membuat individu berfikir logis dan sistematis berdasarkan aturan-aturan yang telah baku. Belahan otak kanan yang merupakan otak kreatif tidak dimanfaatkan secara optimal untuk menciptakan sesuatu yang bersifat innovatif.
Riset lain tentang peran otak dalam aktivitas belajar menhasilkan sebuah teori baru yaitu “triune theory”. Menurut teori ini Otak dibagi menjadi tiga bagian yaitu :
1. The neocortex
The Neocortex merupakan bagian yang berisi 80 – 85 % massa otak manusia. Bagian ini merupakan esensi dari fungsi aktivitas mental tinggi (analisis, kreativitas). Bagian ini yang membuat manusia unik dibandingkan mahluk lain dimula bumi.
2. The lymbic system
The lymbic system adalah pusat emosi manusia. Bagian otak ini disebut sebagai bagian sosioemosional. The lymbic system juga memiliki bagian esensial yang berperan dalam memori jangka panjang (long term memory) manusia.
3. The brain stem
The brain stem dikenal juga dengan sebutan otak reptil atau the reptilian brain berperan dalam mengendalikan fungsi tubuh yang bersifat otomatis seperti detak jantung, pernafasan dan pencernaan. Bagai berkaitan juga dengan sifat instinktif manusia. Otak ini akan bekerja jka manusia mendapat ancaman. Bagian otak ini akan melindungi manusia agar tetap hidup (survive).
Manusia harus dapat menyeimbangkan peran semua bagian otak. Dalam belajar bagian neocortexharus selalu dominan karena merupakan bagian otak yang terkait dengan fungsi berfikir tingkat tinggi seperti analisis, sintesis dan kreativitas.
Triune theory mengemukakan bahwa “A Sense of Joy” yaitu belajar harus dalam kondisi yang menyenangkan.
Menurut triune theory proses belajar akan menjadi lebih cepat dan mendalam apabila seluruh otak terlibat didalamnya. Manakala perasaan seseorang sedang dalam kondisi positif, maka dia akan berada dalam keadaan relaks. Dia akan menggunakan neocortex – otak untuk belajar. Sebaliknya, manakala seseorang berada dalam situasi negatif, individu akan menggunakan otak reptil – untuk “survive” maka proses belajar akan melambat dan bahkan berhenti.
Menurut Meier implementasi Accelerated Learning memberikan keuntungan dalam hal:
• Ignite your creative imagination – menciptakan imajinasi kreatif siswa
• Get learner totally involved – membuat siswa terlibat total
• Create healthier learning environments – menciptakan lingkungan belajar yang sehat
• Speed and enhance learning – mempercepat dan memperkaya belajar
• Improve retention and job performance – meningkatkan daya ingat dan performa
• Speed the design process – memepercepat proses rancangan belajar
• Build effective learning communities – membangun masyarakat belajar yang efektif
Greatly improve technology-driven learning – meningkatkan penggunaan teknologi dalam pembelajaran
Adapun persiapan dalam implementasi Accelerated Learning adalah sebagai berikut :
• Get learners out of a passive or resistant mental state – Menyiapkan mental siswa menjadi aktif.
• Remove learning barriers – Menghapus hambatan-hambatan dalam belajar.
• Arouse learners’ interest and curiosity – Meningkatkan minat dan rasa ingin tahu siswa.
• Give learner positive learning about, and a meaningful relationship with, the subject matter – Membuat siswa berfikir prositif tentang materi pelajaran
• Create active learners who inspired to think, learn, create, and grow – Ciptakan siswa yang akti yang dapat berfikir dan mencipta
Get people out of isolation and into a learning community – Buat siswa keluar dari isolasi dan ajaklah mereka melihat masyarakat disekitar
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Revolusi belajar sendiri dapat diartikan suatu kegiatan belajar yang memanfaatkan serta menyelaraskan cara kerja otak kiri dan kanan. Karena sebenarnya konsep revolusi belajar didasarkan pada fungsi dan struktur otak manusia, yang terdiri dari belahan kiri dan kanan atau disebut otak kiri dan otak kanan.
Aktivitas pembelajaran yang dilakukan di sekolah perlu mempertimbangkan teori pembelajaran akselerasi yang dapat membuat proses belajar tidak lagi merupakan suatu yang menakutkan.
B. SARAN-SARAN
Untuk mendapatkan informasi mengenai revolusi belajar,macam-macam gaya belajar, macam-macam kecerdasan seseorang maka,serta pengertian percepatan belajar disarankan untuk membaca artikel atau sumber belajar lain yang juga dapat digunakan sebagai acuan pada saat belajar.
DAFTAR PUSTAKA
De Porter, Bobbi & Hernachi, Mike. 2002. Quantum Learning. Bandung:Kaifa
Meier Dave, 2002. Handbook The Accelerated Learning, Penerbit Kaifa Bandung.
Revolusi Belajar Dalam Pembelajaran, http://downixs.wordpress.com/
Revolusi Belajar, http://thegoebbeiz.wordpress.com
Accelerated Learning, http://lulamontes.wordpress.com
Accelerated Learning, http://supraptojielwongsolo.wordpress.com
[1][1]Imam Azhar, “Learning
Revolution”, diakses pada tanggal 9 September 2012, dalam
http://jgatraya.blogspot.com/2009/03/learning-revolution.html
[2][2]Tabrani Rusyan,
dkk, Pendekatan Dalam Proses Belajar
Mengajar (Bandung: Remadja Karya Offset, 1989), h. 169.
[6][6]Leliana,
“Revolusi Terbaru dalam Sejarah”, diakses pada tanggal 10 September 2012, dalam
http://dc371.4shared.com/doc/aUUsDQXE/preview.html
mohon maaf kak sebelumnya, kenapa di google belum banyak pembahasan tentang revolusi learning. bahkan dari berbagai blog, semuanya sama.. sekian terimakasih
BalasHapus